Kamis, 09 Januari 2014

BUIH-BUIH ITU……


Kelak kalian (kaum Muslim) akan dikerubuti oleh umat-umat lain dari berbagai penjuru persis seperti hidangan yang dikerubuti oleh orang-orang.” Kami (para sahabat) bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Justru jumlah kalian saat itu sangat banyak. Akan tetapi, kalian hanyalah buih seperti buih di lautan sehingga hilanglah rasa takut dari kalbu musuh-musuh kalian (terhadap kalian), sementara dalam kalbu-kalbu kalian ada penyakit wahn.” Kami bertanya lagi, “Apakah penyakit wahn itu?” Rasul menjawab, “Yaitu cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad).
............................................

Saya mulai dari penggalan hadits yang saya yakin, kebanyakan kita sudah pernah mendengarnya. Sebuah ramalan yang datang dari abad ke tujuh masehi, bukan dari mulut seorang peramal atau ahli nujum. Tapi dari mulut mulia seorang kekasih Allah, yang julukannya saja al-Amiin alias yang terpercaya, yang bicaranya tidak lain adalah berupa wahyu yang diwahyukan, yang dari tiap tuturnya keluar mutiara yang pastinya adalah keniscayaan.
Dan tepatnya kalimat di atas bukan lagi berstatus sebagai sebuah ramalan. Kini dia adalah kalimat yang telah menjelma nyata.
Dan kita tidak perlu menjadi orang yang jenius dulu untuk membuktikan kebenaran ramalan itu. Kita betul-betul dalam keadaan yang terpuruk di segenap bidang kehidupan.
Tidak perlu kita kuliah dulu di fakultas ekonomi untuk bisa mengamini kalo kita, umat ini termasuk deretan bangsa-bangsa yang melarat, atau bahasa kerennya negara-negara dunia ketiga. Sumber daya alam negri-negri kita disantap habis oleh para penjajah kafir. Akibatnya alam yang loh jinawi menjadi kering kerontang, sementara yang tersisa buat rakyatnya tak lebih dari tulang belulang. Tidak perlu jadi doktor ilmu politik untuk sekedar menyadari umat ini begitu terkebelakang dalam politik dibanding umat lain. Kita, umat islam saat ini tidak lebih dari sekedar kacung yang bisa dipermain-mainkan. Manut atas apa saja yang diinginkan oleh sang imperialis.
Kita juga tidak perlu nyambi kuliah di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan untuk sekedar mengatakan negri-negri kaum muslim masih merajalela tingkat kebodohannya. Pendidikan begitu mengenaskan. Indonesia saja, daerah yang katanya muslimnya paling benyak ternyata menempati urutan ke-12 dari 12 negara Asia, bahkan lebih rendah dari Vietnam. (Penelitian  the political and Economic Risk Consultancy) Sementara itu hasil penelitian Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia menduduki urutan ke-109 dari 174 negara.
Lalu apa yang mau kita banggakan? Tentang Akhlak dan moral? Ah, tak jauh beda mengenaskan. Moral umat pun sudah terkoyak-koyak. Bersamaan dengan hedonisme, liberalisme, dan materialisme yang menyusup hingga meracuni tubuh umat, maka hancurlah benteng-benteng akhlak. Seks bebas, pornografi, kekerasan, runtuhnya budaya saling menghormati, perjudian, dan lainnya adalah bak bisul yang bertebaran di sekujur tubuh umat ini.

Maka  Mahabenar Allah, yang lewat rasulnya memberikan setajuk informasi tentang nasib sekumpulan buih-buih yang terombang-ambing. Kita, buih-buih itu, yang walaupun banyak namun tidak ada artinya. Terempas ke sana kemari oleh ombak. Yang mudah pecah bahkan oleh angin yang kecil sekalipun. Buih-buih yang tidak peduli dengan nasib buih-buih yang lain.....
Ketika satu buih bernama Afghanistan diserang angin topan ’Amerika’ maka buih bernama Pakistan serentak turut mendorong angin topan itu untuk melaju lebih kencang memecahkan buih yang tidak lain adalah saudara kandungnya. Ketika buih bernama Irak diserang oleh angin topan yang serupa, berdirilah buih bernama Kuwait mempersilakan dengan hormat sang angin untuk lewat. Sementara buih-buih yang lain pun diam tak bergeming seraya terus bergerak-gerak terombang-ambing. Dan ketika tiba giliran buih bernama Iran untuk diterpa angin topan yang serupa, maka sekarang bangkitlah saudaranya, buih bernama Indonesia, mengutarakan dukungannya kepada sang angin supaya jangan malu-malu untuk segera menghancurkannya.
Buih-buih, ombak gelombang, angin topan yang siap menyantap.... 

”Jumlah kalian saat itu banyak.....”
”Tapi dalam qalbu kalian telah terjangkit oleh wahn....”
”.....Cinta dunia dan takut mati....”

0 komentar:

Posting Komentar