Kelak kalian (kaum Muslim) akan dikerubuti oleh umat-umat lain dari
berbagai penjuru persis seperti hidangan yang dikerubuti oleh orang-orang.”
Kami (para sahabat) bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya
Rasulullah?” Rasul menjawab, “Justru jumlah kalian saat itu sangat banyak. Akan
tetapi, kalian hanyalah buih seperti buih di lautan sehingga hilanglah rasa
takut dari kalbu musuh-musuh kalian (terhadap kalian), sementara dalam
kalbu-kalbu kalian ada penyakit wahn.” Kami bertanya lagi, “Apakah penyakit wahn itu?” Rasul
menjawab, “Yaitu cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad).
............................................
Saya mulai dari penggalan hadits yang saya yakin,
kebanyakan kita sudah pernah mendengarnya. Sebuah ramalan yang datang dari abad
ke tujuh masehi, bukan dari mulut seorang peramal atau ahli nujum. Tapi dari
mulut mulia seorang kekasih Allah, yang julukannya saja al-Amiin alias yang
terpercaya, yang bicaranya tidak lain adalah berupa wahyu yang diwahyukan, yang
dari tiap tuturnya keluar mutiara yang pastinya adalah keniscayaan.
Dan tepatnya kalimat di atas bukan lagi berstatus
sebagai sebuah ramalan. Kini dia adalah kalimat yang telah menjelma nyata.
Dan kita tidak perlu menjadi orang yang jenius
dulu untuk membuktikan kebenaran ramalan itu. Kita betul-betul dalam keadaan
yang terpuruk di segenap bidang kehidupan.
Tidak perlu kita kuliah dulu di fakultas ekonomi
untuk bisa mengamini kalo kita, umat ini termasuk deretan bangsa-bangsa yang
melarat, atau bahasa kerennya negara-negara dunia ketiga. Sumber daya alam
negri-negri kita disantap habis oleh para penjajah kafir. Akibatnya alam yang
loh jinawi menjadi kering kerontang, sementara yang tersisa buat rakyatnya tak
lebih dari tulang belulang. Tidak perlu jadi doktor ilmu politik untuk sekedar
menyadari umat ini begitu terkebelakang dalam politik dibanding umat lain. Kita,
umat islam saat ini tidak lebih dari sekedar kacung yang bisa dipermain-mainkan.
Manut atas apa saja yang diinginkan oleh sang imperialis.
Kita juga tidak perlu nyambi kuliah di fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan untuk sekedar mengatakan negri-negri kaum muslim
masih merajalela tingkat kebodohannya. Pendidikan begitu mengenaskan. Indonesia
saja, daerah yang katanya muslimnya paling benyak ternyata menempati urutan
ke-12 dari 12 negara Asia, bahkan lebih rendah dari Vietnam. (Penelitian the political and Economic Risk Consultancy)
Sementara itu hasil penelitian Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2000
menunjukkan kualitas SDM Indonesia menduduki urutan ke-109 dari 174 negara.
Lalu apa yang mau kita banggakan? Tentang Akhlak
dan moral? Ah, tak jauh beda
mengenaskan. Moral umat pun
sudah terkoyak-koyak. Bersamaan dengan hedonisme, liberalisme, dan materialisme
yang menyusup hingga meracuni tubuh umat, maka hancurlah benteng-benteng
akhlak. Seks bebas, pornografi, kekerasan, runtuhnya budaya saling menghormati,
perjudian, dan lainnya adalah bak bisul yang bertebaran di sekujur tubuh umat
ini.
Maka
Mahabenar Allah, yang lewat rasulnya memberikan setajuk informasi
tentang nasib sekumpulan buih-buih yang terombang-ambing. Kita, buih-buih itu,
yang walaupun banyak namun tidak ada artinya. Terempas ke sana kemari oleh
ombak. Yang mudah pecah bahkan oleh angin yang kecil sekalipun. Buih-buih yang
tidak peduli dengan nasib buih-buih yang lain.....
Ketika satu buih bernama Afghanistan diserang
angin topan ’Amerika’ maka buih bernama Pakistan serentak turut mendorong angin
topan itu untuk melaju lebih kencang memecahkan buih yang tidak lain adalah
saudara kandungnya. Ketika buih bernama Irak diserang oleh angin topan yang
serupa, berdirilah buih bernama Kuwait mempersilakan dengan hormat sang angin
untuk lewat. Sementara buih-buih yang lain pun diam tak bergeming seraya terus
bergerak-gerak terombang-ambing. Dan ketika tiba giliran buih bernama Iran
untuk diterpa angin topan yang serupa, maka sekarang bangkitlah saudaranya,
buih bernama Indonesia, mengutarakan dukungannya kepada sang angin supaya
jangan malu-malu untuk segera menghancurkannya.
Buih-buih, ombak gelombang, angin topan yang siap
menyantap....
”Jumlah kalian saat itu banyak.....”
”Tapi dalam qalbu kalian telah terjangkit oleh wahn....”
”.....Cinta dunia dan takut mati....”


0 komentar:
Posting Komentar